Aksi Bela Islam Super Damai 212 dan seterusnya: Politik dalam Bingkai Ilahiyah

Bagaimana jadinya jakarta jika semua Ulama NU menyerukan agar semua warga Nahdliyin ikut aksi bela Islam 212 ? Bisa amburadul itu jakarta.

Mari berpikir jernih sebelum menuduh Kiai-kiai NU yang melarang ikut aksi tidak cinta Islam. Ada kepentingan ummat, kepentingan bangsa, dan kepentingan kebhinekaan yang perlu dilihat.

Saya pikir anda-anda semua sudah pintar membaca peta politik di bangsa ini. Mulai dari hancurnya rezim Soekarno yang digantikan dengan otoriternya Soeharto. Selanjutnya muncul reformasi yang melahirkan huru hara di ibu kota Negara dan beberapa daerah. Habibi tak begitu lama memimpin di masa peralihan orde baru ke reformasi karena dituduh antek-antek ORBA. Timbul gejolak dikala Gusdur dan Mega memimpin Negara, saat peralihan menuju ke sistem demokrasi kapitalis. SBY selama dua periode penuh tak kalah oleh penantangnya.

Jokowi berhasil menjadi presiden, entah ini sebuah keajaiban atau suatu kebetulan. Wakil gubernurnya secara otomatis menggantikan dirinya menjadi 01 Jakarta. Begitu banyak yang diperbuat ahok untuk jakarta - begitulah yang dikabarkan melalui media massa elektronik dan media sosial (kebetulan di daerah saya belum ada media cetak yang besar, jarang saya temui koran/surat kabar di sini).

Cerita tentang ahok ini saya rasa menarik. Kalau ada kawan-kawan yang kuliah di bidang sosial atau hukum bisa menjadikan cerita ahok ini sebagai judul skripsi atau judul tesis bahkan bisa juga disertasi.

Kita kenal (saya hanya lewat media massa) koh ahok ini mulutnya tidak bisa dijaga. Banyak kata-kata kontroversial dan kata-kata kotor seperti t*i dilontarkan di depan publik tanpa memikirkan masalah yang timbul setelah dia bertutur kata.

Puncaknya saat dia dengan santai menerjemahkan Al-Quran surat Al-Maidah ayat 51 di kepulauan seribu untuk kepentingan politiknya. Bagi sebagian intelektual dan politisi di negeri ini, pernyataan ahok tidak menjadi masalah dan tidak mengandung unsur penistaan. Tetapi bagi sebagian kalangan, ahok dituduh menistakan agama Islam dengan menafsirkan ayat Quran sesuka hati.

Akhirnya terjadi reaksi yang luar biasa dari sebagian ummat Islam. Ribuan orang berbondong-bondong datang ke jakarta. Entah magnet dari mana yang menarik ummat Islam yang datang di jakarta. Aksi bela Islam 1, aksi bela Islam 2, hingga aksi super damai 2 Desember 2016. "Koh Ahok memang "hebat" bisa mengembalikan kecintaan ummat Islam kepada kitab sucinya".
Hmmm... saya menarik napas panjang ketika menulis kalimat terakhir dalam paragraf di atas. Entah yang saya maksudkan itu berlaku bagi seluruh ummat Islam yang ikut aksi atau hanya sebagian saja.

Saya merasa senang dan terharu ketika melihat (melalui tv dan medsos) perjuangan ummat Islam yang datang ke jakarta dengan berbagai cara, ada yang berjalan kaki, ada yang naik bis, angkot, truk, kapal laut, bahkan hingga carter pesawat. Yang berjalan kakipun tidak kelaparan di jalan, mereka mendapat bantuan makan dan minum dari ummat Islam lain. Sungguh pemandangan yang luar biasa diperlihatkan oleh ummat Islam Indonesia.

Aksi ini dinyatakan sebagai aksi super damai, dan melalui pantauan lewat televis aksi ini memang damai. Kaum muslimin diberikan tausiah politik, diajak berdzikir, dan khutbah jumat yang penuh dengan bahasa politik kritis yang disampaikan oleh khotib.

Untuk meredam kemungkinan terjadi gejolak yang tidak diinginkan, presiden beserta beberapa politisi bangsa ini menyatakan mendukung aksi damai 212, dan ikut melaksanakan sholat jumat bersama peserta aksi di tugu Monumen Nasional (MONAS) Jakarta. Setelah sholat sang presiden menyapa peserta aksi dan berpidato sebentar sekitar 2 menit.

Di status facebook, saya menulis bahwa "Kepentingan politik dalam bingkai ilahiyah". Yang saya takutkan adalah bangsa ini sedang dipermainkan oleh kekuatan besar (mungkin sedang terjadi).

"Indonesia sedang diadu domba". Pengalaman pahit bangsa ini di masa lalu yang kalah karena politik adu domba. Saya dalam keadaan takut jika-jika suatu saat Indonesia akan dibelah menjadi beberapa bagian. Ketakutan saya bukan tentang nasib generasi saat ini, tetapi nasib generasi berikutnya karena kesalahan dan kekeliruan generasi saat ini.

Saya sedang tidak membela siapa-siapa, tetapi saya hanya membuat sebuah tulisan tentang apa yang saya lihat, apa yang saya dengar, dan apa yang saya baca di media sosial.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat Ar-Rahman dan Terjemahan (Artinya)

Ayat-ayat Al-Quran tentang Berpakaian dan Kewajiban Menutup Aurat

5 Keutamaan Bulan Ramadhan yang Wajib Kamu Ketahui